PENGKHIANATAN Sang KHALIFAH…
Posted by zidplusFeb 26

Derita Ter-KHIANAT...
Buat
HACKED By HaCkErS eV!L
Temuin saya ZiDplus
Atau
Mari kita DIALOG…
Untuk mencari bibit pengkhianatan sang khalifah, aku harus merenungkannya cukup lama, melalui tafakur, memikirkan kejadian diriku dan kejadian alam semesta. Ada hal yang selalu datang menyambangi manusia silih berganti. Ketika matahari muncul di pagi hari, gelap pun sirna. Begitu pula sebaliknya, jika matahari tenggelam, maka gelap pun datang menyergap. Terang dan gelap adalah sisi yang mewarnai kehidupan manusia. Semuanya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dan tidak pernah hilang.
Terang dan gelap, atau cahaya dan kegelapan yang pekat, itulah yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia, sang khalifah itu. Cahaya adalah potensi Ilahiah, dan kegelapan adalah potensi basyariah. Cahaya adalah potensi roh, dan kegelapan adalah potensi jasmani. Cahaya adalah simbolisasi akhirat, dan kegelapan adalah simbolisasi dunia.
Pengkhianatan itu terjadi jika manusia – sang khalifah itu – hatinya sudah mulai condong pada dunia. Tuhan memperingati khalifahNya dengan perumpamaan yang sangat halus : “janganlah kamu dekati pohon itu”(QS 2:35). Dasar manusia selalu lebih tertarik untuk membicarakan dan memikirkan sekedar teks saja, maka mereka tidak sempat memperoleh pencerahan dari kata pohon. Manusia lebih memilih mencari tahu apa nama pohon itu dibandingkan mencari apa hakikat pohon itu. Manusia lupa, bahwa nama adalah sebutan yang dilekatkan kepada sesuatu.
Pohon yang tidak boleh didekati itu adalah dunia dan hal-hal yang bersifat duniawi. Jangan dekati dunia yang buahnya selalu ranum dan menggoda siapa pun yang mendekatinya. Nah, Tuhan memberitahu jangan dekati pohon itu. Mendekatinya saja tidak boleh, apalagi menjadikan dunia itu tujuan, sungguh salah besar. Tetapi itulah yang terjadi. Sang Khalifah terpikat pada pohon itu dan memakan buahnya. Akibatnya, karena sang khalifah lebih memilih dunia dan buahnya, maka ditempatkanlah dia di sana.
Tuhan pun membuat maklumat : “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan”. (QS 11:15). Maka sang khalifah pun – yaitu kita manusia – diperintah untuk memilih apa yang hendak mereka jadikan tujuan hidupnya, karena dia sudah memilih hidup di dunia ketika moyang sang khalifah mendekati dan memakan buah pohon itu.
Jadi, bibit pengkhianatan itu adalah hubbud dunya, atau, kecintaan kepada dunia yang terlalu berlebihan. Padahal, dunia – setelah diciptakan oleh Tuhan – tidak pernah diperhatikan olehNya. Dia – Tuhan – menjadikan dunia ini sebagai batu uji bagi manusia. Manusia lupa bahwa kehidupan dunia ini, hanya main-main dan senda gurau belaka (QS 6:32), karena mereka telah benar-benar jatuh cinta kepada dunia. Lalu mereka membuat misi hidup sendiri. Padahal Tuhan sudah menetapkan misi manusia di dunia, yaitu untuk bersinergi denganNya.
Begitu manusia condong pada kehidupan dunia, maka mulailah dia menjauh dari Tuhan. Begitu manusia menjauh dari Tuhan, mulailah dia melepaskan ikatan sinerginya dengan Tuhan. Manusia mulai berkhianat, sehingga seruan Tuhan pun diabaikannya : janganlah engkau mengkhianati Allah
dan Rasul dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui. (QS 8:27).
Sekali hati manusia bertaut kepada dunia, maka sejak saat itu secara sadar dia melupakan Tuhan, melupakan utusan Tuhan dan melupakan amanat yang telah dipercayakan. Maka, neraca Tuhan pun mulai tidak lagi seimbang, karena sang khalifah yang bertugas menjaga amanah keseimbangan itu telah bergeser ke arah kiri, ke arah dunia, sehingga dunia yang semula adalah sarana untuk menggapai kehidupan yang lebih baik, berubah menjadi orientasi hidup. Wujudnya adalah : perebutan kekuasaan, perebutan pengaruh, perebutan harta, penjajahan, penjarahan alam semesta tanpa memerhatikan lagi keseimbangan yang harus dijaga.
Manusia – sang khalifah itu – lupa bahwa “Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya” (QS 11:61). Pemakmur bumi adalah dia yang setia kepada Tuhan dan memegang teguh amanah Tuhan, karena pemakmur bermakna menjadikan bumi lebih makmur dari sebelumnya. Menjadikan bumi itu lestari sehingga dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.
